
Lo pernah nggak sih ngeliat anak Jaksel di Instagram terus mikir, “Kok hidup mereka aesthetic banget ya?”
Padahal kalau elo liat langsung, ya sama-sama manusia juga—kadang bangun kesiangan, kadang kerjaan numpuk, kadang healing cuma ke Indomaret depan kos.
Gue pertama kali sadar fenomena anak Jaksel ini waktu nongkrong di Kemang sama temen-temen. Ada satu momen di mana meja sebelah sibuk foto es kopi susu dari segala angle. Yang satu bilang, “Coba geser sedikit, biar lighting-nya masuk.” Yang lain nyeletuk, “Eh caption-nya nanti: random workday in South Jakarta ya.”
Dan di situ gue mikir:
“Oh, ini toh budaya anak Jaksel yang sering dibahas.”
Kalau elo ngerasa relate dikit—selamat bro, elo mungkin tanpa sadar sudah tercatat dalam populasi anak Jaksel versi soft launching.
Di artikel ini gue mau bahas:
- Kenapa fenomena anak Jaksel bisa muncul
- Kebiasaan khas anak Jaksel yang bikin mereka “berbeda”
- Bahasa-bahasa gaul yang cuma mereka doang yang ngerti
- Tempat nongkrong yang jadi habitat mereka
- Dan yang penting: apakah ini cuma gimmick atau memang gaya hidup?
Let’s go.
1. Fenomena Anak Jaksel: Dari Nongkrong ke Identitas Sosial
Menurut gue, anak Jaksel itu bukan sekadar yang tinggal di Jakarta Selatan.
Justru banyak yang tinggalnya Depok, kerja di Kuningan, tapi nongkrongnya tetep Kemang.
Anak Jaksel itu lebih ke vibe.
Kayak elo punya:
— totebag
— earphone AirPods
— iced latte jam 9 malam
— dan caption Instagram yang kebanyakan bahasa Inggris.
Temen gue pernah bilang, “Anak Jaksel tuh hidupnya kayak trailer film indie.”
Dan gue agak setuju.
Postingan mereka dipenuhi:
- Foto mirror selfie di toilet kafe aesthetic
- Buku yang “kebetulan” kebuka di halaman yang deep
- Snap story candlelight bar satu jam setelah ngomong “nggak mood keluar”
- Dan outfit yang keliatannya effortless, padahal dimix-and-match sejam lebih.
2. Kebiasaan Khas Anak Jaksel yang Bikin Mereka Ikonik
Ini beberapa hal yang hampir pasti pernah elo lakukan kalau vibing sama “anak Jaksel”.
a. Nongkrong sambil kerja… padahal kerjaannya dikit
Mereka bisa buka laptop di kafe 4 jam tapi yang dikerjain cuma:
- Balas satu email
- Edit file Canva 2 menit
- Sisanya scroll Pinterest dan Spotify.
Menurut gue ini bukan karena males, tapi karena vibe lebih penting dari produktivitas.
b. Ngopi = gaya hidup
Anak Jaksel tuh tipe yang bilang “gue nggak bisa kerja tanpa kopi”.
Harganya 38 ribu?
Gas.
Padahal di rumah ada kopi instan.
c. Suka pake bahasa Inggris random
Ini udah jadi ciri khas.
Contohnya:
- “I swear hari ini chaotic banget.”
- “I feel like… gue butuh healing sih.”
- “This place literally gives me life.”
Ini bukan sok English, tapi udah bagian dari dialek mereka.
d. Outfit harus “laid-back” tapi tetep mahal vibe-nya
Kaos basic, celana linen, totebag, sneakers putih.
Kelihatannya simple, tapi price tag-nya kadang bikin dompet insecure.
e. Selalu cari tempat baru
Kafe baru buka?
Dalam 48 jam anak Jaksel pasti udah dateng.
Mereka tuh makhluk yang haus vibes aesthetic.
Nggak bisa nongkrong di tempat yang ‘b aja’.
3. Bahasa Gaul Anak Jaksel yang Sering Dipakai
Kalau elo mau lebih paham dunia Jakselian, ini beberapa kosa katanya:
- Literally = beneran
- Honestly = jujur
- Chaotic = berantakan
- Lowkey = sebenernya… tapi malu ngomong
- Highkey = gue nggak malu, gue ngomong aja
- Healing = liburan 24 jam
- Vibes = nuansa, tapi lebih aesthetic
Contoh penggunaan real:
“Lowkey pengen cabut dari kerjaan, but vibes kantor gue masih oke sih.”
4. Tempat Nongkrong Paling Jaksel: Habitat Resmi Mereka
Gue rangkum beberapa tempat yang anak Jaksel banget:
1. Kemang
Kafe aesthetic, bar craft cocktail, hidden gem makanan.
Mau nongkrong santai atau gaya, semuanya ada.
2. SCBD
Buat yang kerja korporat tapi vibes-nya tetep anak Jaksel.
Lunch break di coffee shop hits: done.
3. Blok M
Rame, muda, artsy, dan banyak street food.
Anak Jaksel edgy banyak di sini.
4. Senopati
Tempat makan yang fancy tapi vibes-nya cozy banget.
Biasanya buat dinner soft launch pacar baru.
5. Anak Jaksel: Gimmick atau Emang Gaya Hidup?
Menurut gue pribadi, anak Jaksel itu bukan gimmick.
Ini lebih ke gaya hidup modern yang menggabungkan:
- produktivitas
- self-care
- estetika
- dan social presence.
Mereka cuma lebih ekspresif dan sadar internet.
Lagipula, hidup kayak anak Jaksel nggak selalu buruk.
Mereka:
- rajin eksplor tempat baru
- punya sense style
- punya self-care routine
- dan bisa menikmati waktu santai dengan baik.
Selama nggak lupa bayar cicilan, ya gas aja bro.
Akhir Kata: Lo Anak Jaksel Nggak?
Sebenernya simple:
Elo anak Jaksel kalau vibes elo ngerasa nyambung sama semua ini.
Dan kalau nggak pun, it’s okay.
Yang penting elo tetep jadi diri sendiri, bukan versi aesthetic yang ngebebanin.
Kalau elo punya cerita lucu tentang anak Jaksel atau pernah ngerasain kejadian yang “Jaksel banget”, drop aja—gue penasaran banget denger kisah orang-orang soal ini.
Leave a Reply