Press ESC to close

Review Warkopolim: Warung Kopi Aesthetic ala Gofar Hilman, Rico Lubis & Wancoy yang Jadi Titik Nongkrong Baru Anak Jaksel

Lo tahu nggak sih, beberapa tempat nongkrong di Jakarta Selatan itu vibes-nya kerasa banget made by the people — bukan cuma bisnis, tapi personality dari para foundernya numpah ke atmosfer tempatnya.

Nah, Warkopolim ini salah satunya.

Gue pertama kali denger Warkopolim justru bukan dari Instagram ads, tapi dari timeline yang rame ngomongin,

“Bro, tempat kopi baru di Polim, punya Gofar.”

Dan lo pasti tahu, kalau Gofar Hilman nyemplung bikin suatu tempat, biasanya ada tiga hal:

musik enak, ambience santai, dan sense of humor selipan di sana-sini.

Apalagi ditambah Rico Lubis yang vibe-nya chill abis, plus Wanda Oke (alias Wancoy)—yang dari Grind Boys aja udah keliatan personality-nya absurd tapi bermakna.

Ketiganya disatukan? Ya jadilah tempat nongkrong yang berjiwa.

1. Lokasi & Vibes: Khas Polim, tetapi lebih “ramah kaki lima modern”

Alamat: Jalan Panglima Polim (Polim), Jakarta Selatan

Area yang udah terkenal sebagai tempat makan & nongkrong paling low effort tapi high reward di Jaksel.

Begitu elo sampai, vibe-nya beda dari coffee shop mainstream:

Semi-warung, semi-coffee shop.

Bukan yang minimalis klinis ala cafe-cafe Senopati, tapi lebih “hidup” dan relatable.

🪑 Outdoor seating dengan energi jalanan Polim.

Ada suara kendaraan, tapi justru itu yang bikin suasana jadi urban banget.

🎶 Playlist yang ngena: kadang klasik rock, kadang Melayu koplo remix, kadang indie—pokoknya variatif sesuai mood orang-orang Gofar & gengnya.

Menurut gue pribadi, tempat ini kerasa kayak ruang aman buat:

  • nongkrong lama,
  • nulis skripsi (kalau lo tahan panas dikit),
  • ngobrol absurd sama temen,
  • atau cuma duduk sambil ngamatin orang lewat.

It’s giving “Jaksel street culture meets old-school warung coffee.”

2. Menu: Murah ala warung, tapi disajiin kayak tempat nongkrong premium

Ini bagian yang menurut gue paling jujur dari Warkopolim. Mereka nggak maksa harga fancy, padahal brand foundernya bisa aja menarik crowd premium.

Kisaran harga (perkiraan):

  • Kopi hitam: 10–15 ribu
  • Es kopi susu: 18–22 ribu
  • Teh manis / lemon tea: 8–15 ribu
  • Makanan ringan: 10–25 ribu
  • Gorengan: priceless (eh tp tetep bayar)

Dan yang lucu, beberapa item menunya punya nama-nama bercanda khas Gofar cs.

Yang wajib lo cobain:

Es Kopi Susu Warkopolim – manisnya pas, creamy tapi nggak bikin mual.

Kopi Tubruk – strong, aromatik, cocok buat penikmat kopi non-gimmick.

Indomie kuah + topping abal – comfort food sejuta umat, tapi vibes-nya beda kalo dimakan di Polim malam-malam.

Roti bakar coklat keju – old vibes but always hits.

Menurut gue, menu mereka tuh kayak ngebawa kita balik ke era nongkrong simpel, tapi dengan kualitas rasa yang tetep niat.

3. Crowd & Mood: Gabungan anak motor, anak jaksel, sampai bapak-bapak random

Yang bikin Warkopolim menarik bukan cuma tempat dan menunya, tapi orang-orang yang nongkrong di sana.

Elo bakal lihat campuran karakter:

  • anak Jaksel yang vibes-nya artsy,
  • komunitas motor yang keliatan solid,
  • anak kreatif (desainer, musisi, videografer),
  • komika-komika lowkey,
  • sampai bapak-bapak lokal yang cuma mau ngopi hitam.

It’s not pretentious.

Semua campur jadi satu tanpa harus tampil perfect.

Menurut gue ini salah satu warung kopi yang bener-bener punya jiwa.

There’s no “dresscode.”

Lo mau datang pake celana pendek belel & sandal swallow pun aman.

4. Kelebihan Warkopolim (versi gue)

  • Vibes-nya beda dari cafe Jaksel lain – lebih raw, lebih jujur, lebih hidup.
  • Harga warung tapi ambience Jaksel – cocok buat yang pengen hemat tapi tetep nongkrong.
  • Pemiliknya publik figur yang punya taste – bikin tempat ini punya karakter kuat.
  • Cocok buat nongkrong malam – Polim tuh paling hidup setelah jam 8 malam.
  • Menu comfort food – enak, simpel, dan bikin betah.

5. Kekurangan Warkopolim (biar fair)

  • Tempatnya rame banget malam weekend – siap-siap waiting.
  • Outdoor jadi agak panas – siang hari kurang nyaman buat nugas.
  • Parkir bisa chaos – standar Polim lah ya.
  • Bukan cafe untuk kerja serius – ini tempat hidup, bukan tempat hening.

6. Warkopolim Cocok Buat Siapa?

  • Anak Jaksel yang suka nongkrong santai
  • Pecinta kopi murah tapi enak
  • Anak komunitas – motor, musik, atau kreatif
  • Yang cari tempat ngobrol, bukan kerja
  • Yang pengen “Jaksel vibe” tapi bukan yang pretensius

Kalau lo expect tempat foto-foto aesthetic yang serba beige-beige minimalis — ini bukan itu.

Kalau lo cari vibe hidup, rame, dan real — ini tempat lo.

Warkopolim Itu Bukan Cuma Warung Kopi, Tapi Culture Spot

Menurut gue pribadi, keberadaan Warkopolim itu nunjukin satu fenomena menarik:

Jaksel masih punya sisi “jalanan” yang otentik.

Di tengah menjamurnya cafe mahal, tempat-tempat yang vibe-nya organik kayak gini tuh justru jadi ruang penting:

  • buat kita yang cuma mau duduk santai,
  • buat orang-orang kreatif yang butuh tempat inspirasi,
  • buat komunitas yang butuh basecamp murah,
  • dan buat siapa pun yang mau ngerasain kultur Polim yang nggak dibuat-buat.

Gue yakin tempat kayak gini bakal selalu punya tempat di hati anak Jakarta.

Karena yang dicari kadang bukan meja bagus dan AC dingin—tapi suasana yang ngereset kepala.

Kalau lo belum pernah ke sini, cobain deh.

Dateng malem-malem, pesan kopi, duduk di depan, liat orang lewat.

Vibes-nya dapet banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *